Ketika Ilmu Berubah Arah: Catatan dari Kitab Bidayatul Hidayah
Coba perhatikan linimasa media sosialmu hari ini. Ada ustadz muda dengan jutaan pengikut, tampil rapi di studio podcast, membahas tafsir dengan gaya santai tapi tajam.
Ada pula akun dakwah yang setiap unggahannya dipenuhi komentar "masyaAllah, tercerahkan kak". Semua tampak baik-baik saja. Semua tampak sedang memperjuangkan agama.
Tapi coba tanyakan satu hal yang jarang diajukan: untuk apa sebenarnya semua ilmu itu dicari?
Pertanyaan ini terdengar sederhana, bahkan mungkin naif di tengah dunia yang serba terukur lewat jumlah pengikut, engagement, dan endorsement. Tapi justru pertanyaan inilah yang delapan abad lalu sudah diajukan oleh Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitabnya, Bidayatul Hidayah. Dan menariknya, jawabannya masih relevan bahkan terasa semakin tajam— etika dibaca ulang di zaman algoritma seperti sekarang.
Dalam sebuah pengajian Ahad pagi di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, KH. Abdul Hadi, Lc. mengajak jamaah untuk berhenti sejenak dan mengajak untuk merenung, dan mulai bertanya ke dalam diri ilmu ini sedang membawaku ke mana?
Al-Ghazali menjawabnya dengan satu kalimat pembuka yang sederhana namun menohok
واعلم رحمك الله أن الناس في طلب العلم على ثلاثة أحوال
"Ketahuilah semoga Allah merahmatimu bahwa manusia dalam menuntut ilmu terbagi dalam tiga keadaan."
Tiga keadaan itulah yang akan kita telusuri satu per satu. Dan boleh jadi, kita akan menemukan diri kita di salah satunya.
Golongan Pertama: Ilmu sebagai Bekal, Bukan Panggung
Golongan ini disebut al-Ghazali sebagai al-faizin orang-orang yang beruntung. Mereka belajar bukan untuk dikenal, bukan untuk dipuji, apalagi untuk dijadikan modal eksistensi, Ilmu bagi mereka adalah bekal pulang, bukan bekal pamer.
Ciri golongan ini justru sering tidak terlihat, mereka jarang viral dan tidak selalu tampil di panggung besar. Banyak dari mereka adalah santri yang bertahun-tahun mengaji kitab kuning tanpa pernah merekam video, atau seorang ibu yang rutin ikut ngaji di langar-langgar, di mushollah kecil tanpa pernah mengunggah "vlog ngaji hari ini".
Sebagiaman dikatakan oleh Imam Al-Ghzali:
رجل طلب العلم ليتخذه زاده إلى المعاد، ولم يقصد به إلا وجه الله والدار الآخرة؛ فهذا من الفائزين
“Seseorang yang menuntut ilmu untuk menjadikannya bekal menuju akhirat dan tidak menghendaki dengannya kecuali mencari rida Allah dan negeri akhirat, maka ia termasuk orang-orang yang beruntung.”
Yang membedakan mereka bukan seberapa banyak ilmu yang dikuasai, melainkan arah perubahan yang terjadi dalam diri mereka. Semakin dalam ilmunya, semakin mereka sadar akan keterbatasan diri. Semakin luas wawasannya, semakin tumbuh rasa takut kepada Allah bukan rasa percaya diri berlebih untuk menghakimi orang lain.
Sederhananya ilmu yang benar membuat seseorang semakin kecil di hadapan Tuhannya, bukan semakin besar di hadapan manusia.
Golongan Kedua: Ketika Ilmu Diam-Diam Berubah Tujuan
Golongan kedua tidak langsung divonis buruk oleh al-Ghazali. Mereka adalah orang-orang yang menuntut ilmu untuk kebutuhan hidup, mencari pekerjaan, membangun karier, atau sekadar ingin punya penghasilan dari keahlian yang dimiliki. Ini manusiawi, dan tidak serta-merta salah.
Yang diperingatkan al-Ghazali bukan niat awalnya, melainkan potensi pergeserannya dan pergeseran itu biasanya terjadi begitu halus hingga tidak disadari.
Fenomena ini mudah dikenali hari ini. Banyak para penuntut ilmu memulai perjalanan dakwahnya dengan niat tulus, ingin membagikan ilmu yang telah dipelajari susah payah di pesantren atau kampus. Kontennya jujur, sederhana, dan menyentuh. Tapi begitu jumlah followers mulai bertambah, begitu tawaran endorsement dan kerja sama berdatangan, sesuatu mulai bergeser.
Al-Ghazali menggambarkan pergeseran ini seperti anak tangga yang turun perlahan dari "saya ingin bermanfaat", menjadi "saya ingin dikenal". Dari ingin dikenal, menjadi ingin dipuji. Dari ingin dipuji, menjadi ingin dihormati. Dan dari ingin dihormati, seseorang bisa sampai pada titik merasa dirinya lebih layak dihormati dibanding orang lain.
Yang berbahaya dari pergeseran ini adalah ia tidak terjadi dalam satu lompatan besar yang mudah disadari, melainkan dalam ratusan langkah kecil yang masing-masing terasa wajar, sampai suatu hari seseorang sadar bahwa ilmu yang dulu ia cari untuk mendekat kepada Allah, kini justru menjadi alat untuk mendekat kepada panggung.
Golongan Ketiga: Saat Agama Menjadi Kedok bagi Ego
Inilah bagian paling keras dari peringatan al-Ghazali dan yang paling relevan untuk direnungkan di era di mana ilmu agama bisa menjadi komoditas.
Golongan ketiga adalah mereka yang secara sadar maupun tidak, menjadikan ilmu sebagai alat untuk membesarkan diri, mengejar kekayaan lewat "jualan kajian", memperbesar pengaruh lewat framing "membela agama", atau memperbanyak pengikut demi validasi diri sendiri.
Fenomena semacam ini bukan hal asing. Kita pernah menyaksikan tokoh agama yang ramai dibicarakan bukan karena kedalaman ilmunya, melainkan karena kepiawaiannya membangun citra dan menjual kemarahan sebagai konten. Ada pula fenomena "war antar mazhab" di media sosial, di mana perdebatan fikih yang seharusnya menjadi ruang belajar, ruang diskusi justru berubah menjadi ajang saling menjatuhkan demi mendapatkan pengakuan sebagai pihak yang "paling benar".
Yang membuat golongan ini paling berbahaya, menurut al-Ghazali, bukanlah karena mereka jahat secara sadar. Justru sebaliknya mereka sering kali merasa sedang berbuat baik.
Ia merasa dirinya sedang berdakwah.
Ia merasa dirinya sedang membela kebenaran.
Padahal, bisa jadi yang sedang ia perjuangkan bukan lagi kebenaran itu sendiri, melainkan dirinya sendiri, yang menyamar dalam bentuk kebenaran.
Karena itulah al-Ghazali menutup peringatannya dengan kalimat yang terasa seperti tamparan lembut dari seorang guru kepada muridnya:
فإياك ثم إياك أن تكون من الفريق الثالث فتهلك هلاكًا لا يرجى معه فلاحك
“Jauhilah, sekali lagi jauhilah, agar engkau tidak termasuk golongan ketiga, sehingga engkau binasa dengan kebinasaan yang tidak lagi diharapkan keberuntungan bagimu.”
Ilmu yang Menjernihkan, Bukan yang Memantulkan Cahaya ke Diri Sendiri
Di tengah dunia yang serba terukur lewat angka jumlah views, jumlah jamaah, jumlah followers pertanyaan al-Ghazali ini terasa seperti undangan untuk berhenti sejenak. Bukan untuk berhenti belajar, tapi untuk berhenti dan bertanya ilmu yang sedang kukejar ini, sebenarnya sedang membawaku mendekat kepada siapa?
Memang tidak semua yang kita unggah bisa menjadi pamer dan ria, tidak semua yang kita tampilkan niatnya untuk menunjukkan inilah kehebatanku bahkan tulisan ini sekalipun bisa menjadi bagian dari poin kedua bahkan ketiga yang awalnya sebagai media sharing, dakwah mengajak orang untuk menjadi lebih baik dan menuju Allah SWT menjadi menuju kedirinya sendiri.
Sebab bisa jadi, dua orang duduk di majelis yang sama, membaca kitab yang sama, bahkan mengunggah konten dakwah dengan tema yang sama persis, namun satu sedang menuju Allah, dan yang lain sedang menuju dirinya sendiri.
Dan barangkali, justru di situlah pekerjaan rumah kita yang sesungguhnya hari ini tidak hanya mencari ilmu sebanyak-banyaknya, melainkan sesekali berhenti untuk memeriksa, ke arah mana ilmu itu sedang menuntun kita pulang. Tuhan memberi jalan bagi siapa saja yang mau berfikir, dari berfikir kita mendapatkan ilmu, dan dengan ilmu kita dapat memilih jalan, jalan kearah yang dipilih oleh tuhan atau jalan kea rah diri kita sendiri yang akan binasa.
Oleh Syah Madani
Santri Al-Hikam
*Kurator: Adjie Sumantri, S.AB.

Posting Komentar