Ketika Gigi dan Usia Berbicara dalam Satu Kata - Oleh Umeirsyah

Daftar Isi

hikmah tentang gigi dan usia

 

 Dalam bahasa Arab, gigi dan usia berbagi akar kata yang sama. Sebuah kebetulan linguistik  atau justru pesan tersembunyi tentang cara kita seharusnya menghabiskan waktu?

Ada satu kata dalam bahasa Arab yang diam-diam menyimpan renungan besar tentang hidup: سِنّ (sinn). Kata ini bisa bermakna gigi, dan dalam bentuk lain juga berarti usia atau tahun. Renungan ini pernah disampaikan Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al Hikam, KH. Moh. Nafi, dalam sebuah ke

giatan peresmian Izza Dentalcare yang merupakan milik putri beliau bahwa dua makna itu bukan kebetulan kebahasaan belaka, melainkan mengandung filosofi mendalam tentang bagaimana manusia menjalani setiap detik yang ia miliki.

Dua Kata, Satu Akar

Di dalam Al-Qur'an sendiri terdapat dua kata yang mirip pengucapannya sekaligus berkaitan maknanya: سِنّ (sinn) yang berarti gigi, dan سِنِين (sinin) yang berarti tahun-tahun. Allah berfirman tentang matahari dan bulan yang diciptakan dengan perhitungan yang teratur, agar manusia dapat mengetahui bilangan tahun (سِنِين) dan hisab kehidupannya.

هُوَ ٱلَّذِی جَعَلَ ٱلشَّمۡسَ ضِیَاۤءࣰ وَٱلۡقَمَرَ نُورࣰا وَقَدَّرَهُۥ مَنَازِلَ لِتَعۡلَمُوا۟ عَدَدَ ٱلسِّنِینَ وَٱلۡحِسَابَۚ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۚ یُفَصِّلُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ لِقَوۡمࣲ یَعۡلَمُونَ

QS. Yunus (10): 5

Pesan serupa diulang pada malam dan siang, yang dijadikan dua tanda kekuasaan-Nya, agar manusia dapat mencari karunia Tuhannya sekaligus mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.

وَجَعَلۡنَا ٱلَّیۡلَ وَٱلنَّهَارَ ءَایَتَیۡنِۖ فَمَحَوۡنَاۤ ءَایَةَ ٱلَّیۡلِ وَجَعَلۡنَاۤ ءَایَةَ ٱلنَّهَارِ مُبۡصِرَةࣰ لِّتَبۡتَغُوا۟ فَضۡلࣰا مِّن رَّبِّكُمۡ وَلِتَعۡلَمُوا۟ عَدَدَ ٱلسِّنِینَ وَٱلۡحِسَابَۚ وَكُلَّ شَیۡءࣲ فَصَّلۡنَـٰهُ تَفۡصِیلࣰا

QS. Al-Isra' (17): 12

Secara morfologis, sinnun (تunggal) berbentuk jamak asnan, sedangkan sinin adalah bentuk jamak dari sanatun (tunggal). Keduanya berpangkal pada huruf yang saling beririsan, seolah bahasa Arab sendiri hendak menegaskan bahwa gigi dan usia adalah dua sisi dari satu koin yang sama.

Ada keunikan lain bangsa Arab, bila ingin mengetahui usia seekor hewan, cukup melihat jumlah dan kondisi giginya. Bahkan untuk menanyakan usia seseorang, ungkapan yang lazim dipakai adalah “kam sinnuka?”  bukan “kam 'umruka?”. Gigi, dalam tradisi ini, menjadi penanda waktu yang paling jujur.

Gigi, Saksi yang Diam-Diam Mencatat Waktu

Filosofinya jauh lebih dalam daripada sekadar kemiripan bunyi. Gigi diciptakan untuk merobek dan mengunyah makanan agar kehidupan terus berlangsung. Tumbuh dan tanggalnya gigi adalah cermin fase usia makhluk hidup, tunduk pada sunnatullah  yang menariknya juga berasal dari huruf sin dan nun yang sama.

Dari puluhan gigi yang Allah titipkan pada manusia, hanya sebagian yang bertugas memotong dan merobek, selebihnya mengunyah, melumatkan, dan menghaluskan makanan agar mudah dicerna tubuh. Namun pada saat yang sama, usia (sinin) sedang melakukan hal serupa terhadap diri kita, melumat dan menghabiskan jatah hidup yang telah ditetapkan, detik demi detik.

Manusia kerap lupa dengan giginya ia merasa mampu melumat segala hal duniawi, tanpa sadar bahwa pada saat yang sama ia sendiri sedang dilumat oleh jatah umurnya.

Bukan hanya kita yang menghabiskan waktu-waktu juga sedang menghabiskan kita.

Gigi, Keadilan, dan Sari Pati Waktu

Menariknya, kata سِنّ juga hadir dalam ayat tentang hukum qisas. Allah menegaskan prinsip balasan yang setimpal: nyawa dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan setiap luka pun ada balasannya — kecuali bagi siapa yang bersedia memaafkan.

وَكَتَبۡنَا عَلَیۡهِمۡ فِیهَاۤ أَنَّ ٱلنَّفۡسَ بِٱلنَّفۡسِ وَٱلۡعَیۡنَ بِٱلۡعَیۡنِ وَٱلۡأَنفَ بِٱلۡأَنفِ وَٱلۡأُذُنَ بِٱلۡأُذُنِ وَٱلسِّنَّ بِٱلسِّنِّ وَٱلۡجُرُوحَ قِصَاصࣱۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِۦ فَهُوَ كَفَّارَةࣱ لَّهُۥ

Q. S Al-Maidah 45

Ayat ini menambahkan lapisan makna baru gigi bukan hanya penanda usia, tetapi juga simbol keseimbangan dan keadilan  sebagaimana waktu yang dianugerahkan kepada setiap orang bersifat adil, tidak berlebih dan tidak berkurang.

Lalu apa hakikat waktu itu sendiri? Al-Qur'an menyebutnya wal-'ashr  yang secara leksikal berarti perasan (al-'ashir: perasan, ekstraksi). Waktu tidak pernah mengingkari tugasnya: memeras seluruh potensi diri manusia hingga yang tersisa hanyalah ampas, jasad kita. Yang menjadi sari pati, yang selamat dari perasan itu, hanyalah iman dan amal saleh.

Waktu Adalah Keadaan yang Sedang Kita Jalani

Imam Ibnu 'Aṭā'illāh al-Sakandarī dalam kitab Al-Ḥikam menuliskan sebuah kalimat singkat namun menghunjam:

الْوَقْتُ مَا أَنْتَ فِيهِ

“Waktu adalah keadaan yang sedang engkau jalani saat ini.” — Ibnu 'Aṭā'illāh, Al-Ḥikam

Dari pemahaman inilah para ulama merumuskan istilah وَاجِبَاتُ الْوَقْتِ (wajibat al-waqt) kewajiban-kewajiban yang dituntut oleh momen yang sedang kita jalani. Namun tidak semua waktu bernilai setara. Ada jam yang sekadar berlalu, dan ada pula momentum yang menentukan arah hidup seseorang kesempatan yang, jika terlewat, belum tentu kembali.

Barangkali karena itulah orang-orang saleh justru lebih takut kehilangan waktu daripada kehilangan harta. Harta yang hilang masih bisa dicari, tetapi satu detik usia yang telah “digigit” oleh waktu, tidak akan pernah kembali.

Merawat Gigi, Merawat Usia

Barangkali di sinilah jawaban mengapa kedokteran gigi berdiri sebagai satu disiplin ilmu tersendiri, padahal objeknya hanya seluas mulut manusia. Pesannya mungkin bukan sekadar soal kesehatan fisik agar kalimat yang keluar dari lisan kita baik dan benar, ia harus lebih dahulu dikunyah, dilumatkan, dan dihaluskan dengan penuh kesadaran sebagaimana tiada seorang pun berbicara kecuali atas izin Ar-Rahman, dan ia pun berkata yang benar.

Setiap kali kita merawat gigi, sesungguhnya kita sedang diingatkan untuk merawat usia. Dan setiap kali sinn kita bertambah  setiap kali hari lahir kita rayakan  sesungguhnya kita sedang diingatkan bahwa satu keping umur telah dikunyah habis oleh waktu, tak mungkin kembali lagi.

Semoga setiap سِنّ yang terus bertambah, benar-benar diisi oleh amal, sebelum seluruh usia itu tandas “dikunyah” oleh waktu.

Gigi mengunyah makanan agar tubuh tetap hidup. Waktu mengunyah usia agar kita segera menyadari: hidup ini ada batasnya.


*Tulisan Umeirsyah- Mahasiswa S1 Jurusan PAI STAIMA AL-HIKAM MALANG

*Kurator: Adjie Sumantri, S.AB. 

Posting Komentar